Terapi Seni: Sebuah Pengenalan Tentang Disiplin Ilmu

oleh: Ardhana Riswarie

Terapi seni atau art therapy merupakan perkawinan antara disiplin ilmu Seni Rupa, Psikologi, dan Psikoterapi yang digunakan untuk mencapai tujuan terapeutik, bukan hanya untuk orang-orang di medan sosial seni rupa tetapi juga untuk masyarakat yang lebih luas. Praktik ini di Indonesia masih dalam tahap awal perkembangannya, terbukti dari jumlah praktisinya yang sedikit dan pemahaman awam yang beragam tentang apa terapi seni itu.

 

1 Terapi Seni dan Profesi Terapis Seni

Apabila mengacu pada definisi yang diungkapkan dua asosiasi profesi art therapist terbesar di dunia, terapi seni adalah:

Art therapy is a form of psychotherapy that uses art media as its primary mode of expression and communication. Within this context, art is not used as diagnostic tool but as a medium to address emotional issues, which may be confusing and distressing. (British Association of Art Therapists)

Art therapy is a mental health profession in which clients, facilitated by the art therapist, use art media, the creative process, and the resulting artwork to explore their feelings, reconcile emotional conflicts, foster self-awareness, manage behavior and addictions, develop social skills, improve reality orientation, reduce anxiety, and increase self-esteem. A goal in art therapy is to improve or restore a client’s functioning and his or her sense of personal well-being. Art therapy practice requires knowledge of visual art (drawing,

painting, sculpture, and other art forms) and the creative process, as well as of, human development, psychological, and counseling theories and techniques. (American Art Therapists Association)

Pada dasarnya, profesi ini termasuk ke dalam bidang kesehatan jiwa, sejajar dengan konselor, psikolog, dan terapis lainnya (speech/language, occupational). Seperti profesi kesehatan lainnya, secara internasional standar pendidikannya adalah tingkat magister. Selama perkuliahan yang dijalani dua tahun, para mahasiswa profesi harus menjalani kerja praktik di bawah supervisi seorang art therapist; experiential learning di kampus lewat group therapy reguler skala kecil dan besar; dan personal therapy dengan seorang art therapist atau psychotherapist untuk memampukan mahasiswa mengenali diri sendiri secara amat mendalam dan menggunakan dirinya sebagai medium eksplorasi mental para klien.

Tentu saja, hal ini bukan berarti medium seni rupa tidak bisa digunakan secara terapeutik oleh profesi lain di luar art therapist. Malah, praktik sedemikan sudah dilakukan secara intuitif oleh banyak seniman yang memiliki aspirasi untuk memberi akses yang mudah dijangkau dan memiliki manfaat yang nyata bagi masyarakat. Sebaliknya, banyak pula psikolog yang menggunakan moda seni rupa sebagai alat diagnosis dan salah satu alat treatment mereka. Untuk membedakan praktik, tujuan, dan metodenya, praktik seperti ini lazim dinamakan seni sebagai terapi (art as therapy). Dalam perjalanan sejarah terapi seni, kebingungan tentang penggunaan terminologi sering terjadi, namun sudah sepatutnya art therapy memang hanya digunakan untuk bidang ilmu yang spesifik ini untuk menjaga praktik yang aman dan profesional (Kramer, 2000, p. 33-35).

 

Praktik terapi seni bersifat klinis dan hanya bisa dilakukan oleh terapis seni (art therapist) yang terdaftar di asosiasi profesi. Berbeda dengan penggunaan psikoanalisis untuk interpretasi karya yang biasa dilakukan oleh kurator dan kritikus seni, seorang terapis seni memampukan klien untuk bisa mendapatkan insight yang bermanfaat dan relevan dengan permasalahan emosi yang dimilikinya dari karya seni yang dihasilkan dalam sesi terapi. Sementara seni sebagai terapi bisa dilakukan oleh seniman karena biasanya tujuan terapeutik yang ingin dicapai lebih umum daripada terapi seni, termasuk praktik berkesenian yang dilakukan oleh seniman.

 

Pembedaan terminologi menjadi sangat penting untuk menjaga praktik keduanya tetap pada jalurnya. Pada kasus buku mewarnai, misalnya, banyak yang memberi pernyataan bahwa mewarnai termasuk pada praktik terapi seni, padahal kegiatan mewarnai tersebut dilakukan sendiri tanpa fasilitasi seorang terapis seni. Jika pun kegiatan tersebut mampu menurunkan kecemasan, itu karena sifat relaksasi yang dimiliki semua jenis berkesenian, sehingga mewarnai lebih tepat disebut ‘seni sebagai terapi’. Bahkan pada praktik psikologi, bila seni tidak menjadi moda utama ekspresi dan komunikasi, hal tersebut tidak bisa disebut sebagai praktik terapi seni.

Terapi seni memiliki rangka kerja terapeutik yang spesifik. Komponen wajibnya adalah terapis, klien, dan karya seni yang masing-masing berinteraksi satu sama lain. Interaksi tersebut bisa terjadi secara verbal, visual, bahkan psychodynamic (dinamika psikis). Kerahasiaan pun menjadi elemen penting yang memudahkan klien untuk membuka dan mengeksplorasi diri, sehingga setiap proses terapi dengan klien harus memiliki batasan (boundaries) yang jelas, seperti ruang, waktu, dan terapis yang konsisten, layaknya psikoterapi lainnya. Tugas seorang terapis seni adalah untuk mengenali dan memahami komunikasi yang terjadi lewat beragam interaksi dan memfasilitasi klien lewat komunikasi tersebut untuk memahami diri mereka, sehingga klien mampu mencapai tujuan terapinya.

Sejalan dengan perkembangan psikoterapi, terapi senipun memiliki pendekatan yang berbeda-beda tergantung pada institusi pendidikan profesi terapi seni, kebutuhan klien, dan tujuan terapi.  Menurut Malchodi (2003) pendekatan-pendekatan terapi seni bisa dikelompokan sebagai berikut:

 

Pendekatan Dasar teori Tujuan terapi
Psikoanalitik, analitik, object-relation ·         Sigmund Freud: Ketidaksadaran (The Unconscious)

·         Carl Jung: Psikologi Analisis

·         Melanie Klein, Donald Winnicott: Object-relations

·         John Bowlby: Kelekatan (Attachment)

·         Margaret Naumburg: “Dynamically oriented art therapy

·         Edith Kramer, Judith Rubin, Marion Milner, Myra Levick, Joy Schaverien, David Edwards: terapi seni dengan pendekatan psikoanalitik dan analitik

 

Mengedepankan gambaran dan visualisasi arketipal yang muncul dalam sesi terapi (karya seni, narasi, atau mimpi) sebagai potensi utama yang mampu mengubah kondisi psike (psyche).

Humanistic ·         Viktor Frankl & Rollo May: Psikologi Eksistensial

·         Carl Rogers: Person-centered therapy

·         Fritz Perls, William Passons, Joseph Zinker: Gestalt therapy

·         Abraham Maslow: Aktualisasi diri (self-actualization)

·         Josef Garai, Bruce Moon, Natalie Rogers, Jenie Rhyne, Celia Thompson-Taupin, Shaun McNiff, Joan Kellogg, Cathy Hyland Moon: terapi seni dengan pendekatan humanistik

 

Fokus pada kemampuan individu untuk menemukan makna personal tentang diri dan kehidupannya.

Cognitive-Behavioral ·         Aaron Beck: Cognitive Behavioral Therapy (CBT)

·         D. Turk, D. Meichenbaum, M. Genest: Cognitive Therapy dalam Psikologi Medis (Medical Psychology)

·         Albert Ellis: Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT)

·         Paul Camic, Marcia Rosal, William Steele, M. Raider, Carol DeLue: terapi seni dengan pendekatan cognitive-behavioral

 

Membantu klien untuk menemukan pikiran, asumsi, dan emosi negatif yang dimiliki klien dan mendominasi perilakunya, sehingga ia dapat menggantinya dengan pikiran dan asumsi yang lebih realistis dan positif.

 

Solution-Focused & Pendekatan Naratif ·         Steve de Shazer: Solution-Focused Therapy

·         Michael White, David Epston: Narrative Therapy

·         Matthew Selekman: terapi seni dengan pendekatan solution-focused

·         Shirley Riley: terapi seni dengan pendekatan naratif

 

Solution-focused membantu klien untuk memusatkan perhatian pada solusi strategis bukan permasalahan.

 

Pendekatan naratif membantu klien untuk mengeluarkan permasalahannya dan menyadari bahwa keseluruhan dirinya terpisah dari permasalahannya tersebut.

 

Perkembangan (Developmental) ·         Jean Piaget: perkembangan kognitif

·         Erik Erikson: perkembangan psikososial

·         Viktor Lowenfeld, Howard Gardner, Rhoda Kellogg, Claire Golomb: perkembangan kemampuan ekspresi artistik

·         Edith Kramer, Donald Uhlin, Geraldine William, Mary Wood, Rawley Silver, David Henley, Susan Aach-Feldman, Carole Kunkle-Miller, Noah-Haas Cohen: terapi seni dengan pendekatan perkembangan

 

Memfasilitasi perkembangan klien (terutama anak-anak) agar sesuai dengan usianya, dengan cara stimulasi sensori, penguasaan keterampilan sesuai usia, dan adaptasi dengan alat dan bahan.

Expressive Arts Therapy & Pendekatan Multimodal ·         Shaun McNiff: Integrative Arts Therapy

·         Natalie Rogers: Creative Arts Therapy

·         Mimi Farrelly-Hansen: Transpersonal Art Therapy

·         Paolo Knill: Expressive Arts Therapy

·         Sandra Kagin & Vija Lusebrink: Expressive Therapies Continuum

·         David Johnson & Susan Sandel: Developmental Arts Therapies

·         Avi Goren-Bar: Creative Axis Model

·         Susan Spaniol: Multi-Modal Expressive Art Therapy

 

Mengedepankan dua atau lebih bentuk seni (visual, gerak, musik, sastra) dalam ekspresi diri, komunikasi non verbal, mendapatkan insight, dan memperoleh pengalaman penyembuhan dan proses kreatif.

 

Secara umum, terapi seni bisa dilakukan di beragam tempat dan diperuntukkan bagi beragam jenis klien dengan masalah emosi atau perkembangan. Beberapa yang umum adalah:

  1. Klien:
  2. Anak & remaja dengan masalah emosi dan/atau perkembangan
  3. Orang dewasa dengan masalah emosi, perkembangan dan/atau kesulitan sehari-hari
  4. Klien dengan masalah kesehatan mental (mis. PTSD, skizofrenia, gangguan bipolar, adiksi)
  5. Pasien rawat inap
  6. Lansia
  7. Orang-orang dengan kemampuan verbal terbatas

 

  1. Tempat praktik:
  2. Sekolah Umum & Luar Biasa
  3. Biro Psikologi
  4. Unit Psikiatri
  5. Rumah Sakit Umum
  6. Pusat Rehabilitasi
  7. Rumah Singgah & Panti Wreda

 

2 Sejarah Terapi Seni

Pada dasarnya, aspek terapeutik dari berkesenian bisa dirunut hingga ke masyarakat prasejarah dan tradisi. Cap tangan yang banyak ditemukan di gua prasejarah menunjukkan adanya upaya merekam keberadaan diri, yang bisa diasumsikan dekat konsep terapi. Begitu pula pada beberapa masyarakat tradisi yang masih menggunakan tato dan simbol visual lainnya sebagai alat menolak bala, karena esehatan dan keselamatan merupakan tujuan umum terapi.

Secara profesi, terapi seni memulai sejarahnya pada awal abad ke-20. Teori Freud tentang The Unconscious dan symbol formation menjadi dasar pendekatan para psikiater untuk mencari cara untuk menyembuhkan neurosis pasien mereka. Pada awalnya seni digunakan oleh psikiater sebagai alat relaksasi untuk pasien di bangsal psikiatri. Kemudian para psikolog mulai mengembangkan penggunaan gambar/grafis sebagai alat diagnosis untuk berbagai macam permasalahan psikologis.

 

Pada akhir Perang Dunia II di dekade 1950an, banyak tentara yang dirawat di rumah sakit jiwa karena gangguan stres pasca trauma (Post Traumatic Stress  Disorder/PTSD). Banyak seniman yang diundang oleh psikiater untuk mengelola studio seni yang ada di rumah sakit tersebut. Tentara tersebut menggunakan seni untuk relaksasi dan juga ekspresi diri. Mereka yang mengalami shell shock karena PTSD kehilangan kemampuan verbal mereka, sehingga tidak memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri. Sementara di Amerika Serikat, para guru seni rupa melihat kecenderungan yang sama pada anak-anak berkebutuhan khusus. Ketidakmampuan mereka untuk mengekspresikan diri secara verbal diatasi dengan memberi ruang untuk berekspresi secara visual.

Definisi terapi seni pun disusun dan diinisiasi oleh para terapis seni di Amerika Serikat pada dekade yang sama. Barulah pada dekade selanjutnya, asosiasi profesi art therapists mulai bermunculan. Asosiasi ini selain melindungi profesi terapis seni, juga menjamin praktik yang aman dan profesional. Diawali dengan British Association of Art Therapists pada tahun 1964 dan American Art Therapists Association pada tahun 1969, profesi ini diakui secara internasional dan kedua asosiasi tersebut memastikan bahwa para art therapists berpraktik dengan kode etik, regulasi, tanggung jawab, dan standar kerja yang sama. Di wilayah Asia Pasifik, keberadaan profesi art therapists baru dimulai pada dekade 1980an dengan berdirinya Australian and New Zealand Arts Therapists Association (ANZATA) yang hingga kini makin melebarkan sayapnya. Di Indonesia, profesi terapis seni diwakili oleh ANZATA Regional Group yang terbentuk pada tahun 2017.

 

3 Perbedaan antara Terapi Seni dengan Pendidikan Seni dan Seni sebagai Terapi

Penggunaan seni di wilayah kesehatan dan pendidikan memiliki perbedaan yang signifikan daripada di dalam medan sosial seni rupa. Tidak hanya itu, penggunaan seni di wilayah kesehatan dan pendidikan itu sendiri pun memiliki perbedaan, terutama karena tujuan yang dicapai berbeda-beda. Berikut dua tabel paparannya:

Tabel 1. Perbedaan Art Therapy dan Art Education

Perbedaan yang paling mendasar antara terapi seni dan pendidikan seni adalah pada tujuan dan sifat dari karya seninya. Dua tujuan utama pendidikan seni adalah untuk transfer pengetahuan dan meningkatkan kemampuan artistik, sementara seluruh tujuan terapi seni berada di wilayah emosi dan perilaku, baik individual maupun sosial. Keduanya mampu meningkatkan self-esteem (rasa percaya diri), namun melalui cara yang berbeda; jika pendidikan seni rupa memberikan rasa percaya diri dari bertambahnya kemampuan seseorang, terapi seni memampukan hal yang sama melalui eksplorasi emosi dan acceptance (penerimaan diri).

Dalam pendidikan seni, pameran karya seni biasanya menjadi salah satu komponen penting dalam diseminasi hasil penelitian kekaryaan. Dalam terapi seni, karya bersifat rahasia seperti halnya rekam medis dalam dunia klinis dan hanya bisa dilihat dan diases oleh terapis dan klien. Dalam praktik terapi seni, perjalanan terapi akan diawali dengan penandatanganan consent bahwa karya seni mereka adalah milik klien dan hanya bisa diakses oleh terapis dan klien, untuk memastikan kerahasiaan ini.

Tabel 2. Perbedaan Art Therapy dan Art as Therapy

Perbedaan mendasar antara art therapy dan art as therapy adalah pada prosesnya; terapi seni bersifat klinis, sedangkan seni sebagai terapi bersifat terapeutik tapi tidak klinis. Oleh karena itu, seniman dan psikolog bisa menggunakannya sebagai salah satu metode untuk bekerja dengan individu atau komunitas. Pada praktiknya, seni sebagai terapi juga sering digunakan untuk mengembangkan kreativitas, sementara aspek kreativitas bukan hal yang disasar dalam perjalanan terapi.

 

4 Kesimpulan

Perkembangan keilmuan terapi seni di Indonesia berada pada tahap sangat awal. Cakupan kompetensi dan bidang studinya yang awam dikenali oleh masyarakat di Indonesia, bahkan para akademisinya, menuntut para praktisinya untuk mendidik dan memberi pemahaman. Hal ini ditujukan agar masyarakat luas mampu mengambil manfaat dari keberadaan bidang keilmuan ini.

 

Referensi:

Kramer, E. (2000). Art as Therapy. London: Jessica Kingsley Publishers.

Malchiodi, C. (2003). Handbook of art therapy (1st ed.). New York: Guilford Press.

 

Sumber Tulisan:

Therapeutic Art

Diterbitkan oleh Program Studi Seni Rupa – Fakultas Seni Rupa dan Desain – Institut Teknologi Bandung

ISBN 978-602-14096-8-8

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Apa yang bisa saya bantu?