BAHAGIA DENGAN BERKREASI

Oleh: Dr. Ira Adriati, M.Sn.*

 

Dalam situasi pandemic COVID-19 saat ini, anak-anak merupakan salah satu kelompok usia yang rentan mengalami gangguan emosi. Jika biasanya mereka memiliki banyak aktifitas di luar rumah, maka situasi saat ini tiba-tiba mereka terkukung di rumah. Orang tua merupakan kunci untuk membuat emosi mereka stabil.

 

Kreatifitas orang tua dalam menyediakan fasilitas kegiatan bagi anak-anaknya tentu salah satu jalan membuat emosi anak tetap stabil. Mencari titik stabil dengan membuat mereka tetap “bermain”. Melalui bermain tadi, anak-anak akan merasa sibuk, merasa tertantang, dan hal terpenting mereka bahagia mengisi hari-hari di rumah bersama orang tuanya.

 

“Membuat diri kita bahagia ” itu adalah kunci kebahagiaan kita selama situasi WFH (Work From Home) atau SFW (School From Home). Kerjasama antar anggota keluarga untuk saling dukung menghadirkan kegembiraan tadi sangat mutlak.

 

Kita lihat yuuk beberapa sampel keluarga yang sudah menerapkan aktifitas tadi. Tidak perlu biaya mahal, bisa dari barang bekas atau kita buat sendiri medianya. Hal yang utama adalah membuat anak-anak kita gembira.

 

Mewarnai

Neng Adrine umur 7 tahun sekolah di SDN Kencana Indah 3 asyik mewarnai dari buku yang disediakan oleh Ibunya. Dalam kegiatan ini memungkinkan Ibunya (Putri Noor) berinteraksi dalam proses mewarnai. Tentu ada percakapan-percakapan personal yang saling menguatkan ikatan Ibu-Anak. Di samping itu anak akan menambah pengetahuan melalui tema mewarnai yang dipilih. Dalam contoh ini mereka mewarnai “Terumbu Karang”.

 

Hal yang perlu diingat orang tua, biarkan anak bebas memilih warna dalam sesi ini. Biarkan imajinasi mereka berkembang. Bukan mengejar bagus dengan warna yang benar dan rapih, tapi proses mengerjakan yang menggembirakan.

Foto 1 Karya Mewarnai Neng Adrine 7 tahun

Sumber: Ibu Putri Noor bunda Neng Adrine

Remas Kertas

Kadang anak-anak perlu penyaluran emosi dalam proses mereka bermain. Rendy 9 th kelas 3 SDN Pagermaneuh Lembang, mencoba meremas-remas kertas dan menggabungkannya dengan kotak-kotak bekas. Penggabungan tersebut ia jadikan truk pengangkut buah-buahan. Tanpa disadari proses meremas kertas tadi menjadi salah satu penyaluran perasaan kesalnya tidak dapat bermain dengan teman-teman, di sisi lain ia mengembangkannya menjadi buah-buahan dan roda truknya. Kertas warna-warni yang dipilihnya membuat mobil-mobilan yang dia buat menjadi menarik.

 

Foto 2 Rendy dengan karya Truk

Sumber: penulis

 

Bermain Bayangan

Salah satu ciri anak yang kreatif adalah mereka yang bisa bertahan dalam situasi darurat. Ketika mereka tidak bisa bermain dengan teman-teman sebaya, tentu saja sudah membuat sedih, bertambah rasa sedih ketika mati lampu. Anak-anak sekarang kebanyakan tergantung dengan media digital, yang identik dengan listrik. Ini menjadi tantangan menarik bagi mereka. Akankah “marah” pada keadaan, atau mencari “solusi.”

 

Kita lihat Mikayla Najma Salsabila usia 7 tahun 5 bulan, siswi SD Negeri 111 Pindad Selatan Bandung. Situasi mati lampu tadi membuat dirinya mencari dan menemukan “media” bermain. Bermain bayangan dengan jari tangan dan boneka-boneka yang diselipkan di jari tangan. Mikayla mengeksplorasi gerakan tangannya agar menemukan berbagai bentuk yang terpantul di dinding rumahnya. Tentunya hal tersebut akan mengembangkan imajinasi dalam pikiran anak. Bukan bentuk boneka lagi yang dia lihat, melainkan bentuk lain yang bisa saja dia interpretasikan sebagai naga misalnya.

 

Keberanian mencoba hal-hal yang “tidak biasa” dilakukan dapat muncul, karena “kepercayaan” yang diberikan oleh orang tua. Bebaskan anak untuk “mencoba” hal-hal baru, maka kepercayaan diri dan kreatifitas mereka akan bertambah. Kreatifitas bukan untuk membuat karya seni saja, melainkan dalam menghadapi segala persoalan dalam hidup ini. Pada akhirnya mereka dapat menjadi seseorang dengan pribadi yang Tangguh.

Foto 2 Mikayla 7 tahun dengan Karya Bayangan

Sumber: Bapak Bayu Sakti Aji ayah Mikayla

 

Mainan dari Kardus

Benda-benda bekas biasanya banyak tersimpan di Gudang rumah. Salah satunya kotak-kotak kemasan makanan. Kalyana Lemoni Rei 8 tahun siswi Sequoia School Bandung, berkolaborasi dengan ibunya membuat boneka kucing. Menumpuk, menggunting, kemudian membungkusnya menjadi kucing lucu. Kegiatan tersebut tentu membuat anak dan ibu bekerjasama untuk menghasilkan boneka kucing yang mereka rencanakan. Adik kecil ikut mencermati dan akhirnya bermain dengna boneka tersebut. Perasaan gembira muncul dengan keberhasilan membentuk boneka kucing.

 

Di bawah ini proses Rei mengerjakan boneka kucing tersebut.

Foto 3 – 8 Proses Rei Membuat Kucing Kardu

Sumber: Ibu Winni bunda Kalyana Lemoni Rei

Semoga contoh-contoh di atas memberikan gambaran dengan memanfaatkan kreatifitas, anak-anak dapat berkreasi. Melalui berkreasi telah membuat mereka berbahagia. Berkreasi menjadi media katarsis mereka menghilangkan emosi-emosi negatif yang bisa muncul dalam situasi SFH atau WFH.

 

Tetap Semangat!!

 

 

*Penulis merupakan staf pengajar Program Studi Seni Rupa FSRD ITB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Apa yang bisa saya bantu?