Seni sebagai Katarsis

Dr. Irma Damajanti, M.Sn.
Program Studi Seni Rupa
Institut Teknologi Bandung

Perkembangan peradaban manusia menunjukkan bahwa setiap manusia pada dasarnya selalu
memiliki kebutuhan-kebutuhan pribadi untuk memperkaya batinnya. Seni menyediakan cara bagi
manusia untuk menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru untuk melihat dunia. Seni memang
bukan sebuah kebutuhan primer untuk kelangsungan hidup manusia, namun seni dapat memperluas
kebebasan pribadi kita dengan memperluas pemahaman tentang pilihan-pilihan yang kita miliki, dan
secara bersamaan meningkatkan kehidupan melalui eksplorasi persepsi warna, bentuk, bunyi dan
nilai-nilai kehidupan dengan lebih intens. Yang dimaksud dengan ‘seni’ di sini adalah setiap bentuk
ekspresi dan persepsi kreatif.

Kualitas unik yang menunjukkan sekaligus membedakan seni sebagai sebuah aktivitas psikologis
adalah: (1) Seni melibatkan ekspresi pribadi penciptanya, dan proses untuk menyempurnakannya,
yang merupakan fungsi dari proses kreatif; (2) Subyektivitas seniman melibatkan dimensi budaya,
sosial, dan pribadi yang mengisi kehidupan pribadi setiap manusia; (3) Ekspresi pribadi dalam seni
melibatkan eksternalisasi melalui penggubahan atau penciptaan sebuah obyek atau bentuk dari
pengalaman eksternal; (4) Subyektivitas seniman diwujudkan dalam aspek formal obyek tersebut; (5)
Dialog antara subyektivitas seniman dan eksternalisasinya dalam bentuk karya menghasilkan aspek
formal yang baru dan menciptakan pengalaman yang unik, bahkan pada tingkat dimana mungkin
senimannya sendiri tidak menyadarinya.

Ekspresi artistik memiliki kemampuan yang unik dan abadi untuk menyentuh setiap individu.
Penyembuhan (healing) melalui seni adalah salah satu praktek kebudayaan tertua di setiap belahan
dunia. Dalam kalimat pertamanya, misi the American Art Therapy Association menyatakan bahwa
“making of art is healing and life enhancing”, berkarya seni menyembuhkan dan meningkatkan
kehidupan (McNiff, 2004). Ada sebagian dari kita yang mengeksplorasi kekuatan penyembuhan dari
seni tersebut sendiri, sementara yang lainnya melakukannya di bawah bimbingan dan pengawasan
dalam konteks terapeutik. Di saat jiwa membutuhkan, seni hadir sebagai penyembuh.

Terapi seni adalah jenis psikoterapi yang memanfaatkan media seni dan artistik untuk membantu
individu mengeksplorasi pikiran dan emosi mereka dengan cara yang unik. Gagasan di balik jenis terapi
ini adalah menggunakan seni sebagai sarana komunikasi utama, sesuatu yang dapat berguna bagi
mereka yang merasa kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya secara verbal. Melalui praktek
berkarya dengan menggunakan materialseni seringkali membantu partisipan merasa lebih terhubung
dengan dunia di sekitar mereka. Partisipan didorong untuk mengeksplorasi perasaan mereka dengan
menggunakan material seni, seringkali kertas dan cat, namun sebenarnya terbuka kesempatan untuk
mencoba material lainnya seperti kolase, fotografi, plastisin, tanah liat, termasuk material alam
seperti daun-daunan atau batu.

Aktivitas seni dirancang untuk membantu partisipan mengeksplor emosi dan perasaan dalam cara
yang baru dan kreatif. Beberapa contoh kegiatan yang mungkin dilakukan: menggambarkan emosi
(misalnya marah, sedih, bahagia); membuat jurnal seni untuk mencatat perasaan yang dialami setiap
1 Disampaikan dalam kegiatan Whatsapp Webinar Psikoedukasi “Efek Katarsis Seni Rupa”, Bipolar Care
Indonesia (BCI) Bandung, Sabtu 9 Mei 2020.
harinya; menggambar dalam gelap, yang akan membantu partisipan menggambar dari hati; membuat
kolase yang menenangkan; menggambar otobiografi visual, dll.

Pengalaman atau keterampilan dalam seni tidak diperlukan, karena karya yang dihasilkan tidak akan
dikritik; terapi ini lebih tentang emosi yang diungkapkan dan dirasakan selama proses berlangsung.
Menjadi kreatif dalam lingkungan yang aman dan terapeutik seperti ini dapat menyegarkan dan
seringkali mengangkat suasana hati. Kebebasan untuk memilih dan berekspresi, serta kurangnya
penilaian yang dirasakan dalam terapi seni, dapat menjadi katarsis dan unik jika dibandingkan dengan
bentuk psikoterapi yang lebih tradisional.

Saya percaya bahwa sebenarnya tidak perlu ada konflik antara seni sebagai terapi dan Terapi Seni.
Terapi Seni adalah bagian dari seni sebagai terapi, dan perbedaannya cukup jelas. Seni dapat
menyembuhkan dimana pun ia dipraktekkan, sementara Terapi Seni lebih merupakan pengalaman
terbatas yang terjadi dalam konteks hubungan terapeutik antara terapis yang berkualifikasi dan klien,
dan dengan memanfaatkan sumber-sumber yang tidak hadir saat seseorang berkarya seni sendirian.
Terapi Seni adalah bidang khusus kesehatan mental yang menggunakan material seni dan proses
kreatif untuk mengeksplorasi emosi, mengurangi kecemasan, meningkatkan percaya diri, dan
menyelesaikan konflik-konflik psikologis lainnya. The American Art Therapy Association menyatakan
bahwa Terapi Seni dapat menjadi perawatan kesehatan mental yang efektif bagi orang-orang yang
mengalami depresi, trauma, sakit secara medis, dan masalah-masalah sosial. Membuat karya seni
dalam proses terapi dapat menjadi cara untuk mencapai pemahaman pribadi serta penyembuhan.
Ada lebih dari sekedar “menggambarkan perasaan” dalam Terapi Seni. Terapis seni dilatih untuk
membimbing klien melalui proses kreatif secara terapeutik, dan bukan menafsirkan karya seni,
menguraikan dan mengungkap makna yang tersembunyi di dalamnya. Terapis seni bukan “peramal”
atau “ahli nujum”.

Proses artistik berpotensi menjadi media komunikasi yang efektif, sekaligus media katarsis untuk
melepaskan ketegangan, kecemasan, dan emosi-emosi yang terpendam dengan cara
mengekspresikannya melalui karya seni. Istilah ‘katarsis’ berasal dari kata dalam Bahasa Yunani,
‘kathoros’ yang berarti ‘untuk menyucikan’ atau ‘untuk membersihkan.’ Aristoteles merupakan salah
seorang filsuf yang paling pertama memberi pemaparan mengenai istilah katarsis. Istilah ini telah
digunakan dalam beberapa bidang keahlian, salah satunya bidang psikologi yang mengaplikasikan
istilah katarsis untuk menggambarkan sebuah momen ketika seseorang, berdasarkan teori Freud,
mampu melepaskan rasa sakit di masa lalu dengan cara mengartikulasikan segala kesakitan tersebut
dengan jelas dan secara menyeluruh. Dalam pengertian paling umum, katarsis adalah salah satu usaha
yang bisa kita lakukan untuk mengungkapkan emosi yang sedang dirasakan, menjadi sarana pelepasan
ketegangan atau kecemasan yang sedang dirasakan.

Teori katarsis diambil dari psikoanalisis Sigmund Freud. Menurut Freud, manusia digerakkan oleh dua
naluri eros dan thanatos. Eros adalah naluri konstruktif dan thanatos adalah naluri destruktif. Pada
dasarnya, manusia itu agresif –senang merusak dan menghancurkan. Dorongan agresif tentu tidak
seluruhnya dibenarkan masyarakat. Bila mengalami hambatan, dorongan agresif bertumpuk dan
menimbulkan ketegangan. Kata Freud, kekuatan agresif yang terhambat sewaktu waktu dapat
meledak. Orang harus berusaha menguranginya, menahannya atau bahkan melenyapkannya sama
sekali. Melalui sublimasi dan fantasi orang menyalurkan sikap agresi. Seni, agama, idiologi, fantasi,
mimpi dan lelucon dapat dimanfaatkan sebagai media sublimasi untuk menyalurkan dorongan agresif
secara konstruktif; inilah yang disebut katarsis.

Setiap emosi dan sikap agresif lambat laun akan menumpuk dan harus segera di salurkan. Dalam
keadaan tersebut, tidak semua emosi dan agresi bisa disalurkan secara nyata dan dibutuhkan satu
cara aman untuk pelampiasan atau penyaluran. Katharsis yang merupakan penyaluran emosi dan
agresi yang berupa kekesalan, kesedihan, kebahagiaan, impian dan lainnya ini bisa juga dilakukan
dengan pengalaman wakilan (vicarious experience) seperti mimpi, lelucon, fantasi atau khayalan.
Dalam konteks ini, seseorang tidak melakukan penyaluran emosi dan agresinya secara nyata oleh
individu tersebut, melainkan dilakukan hanya dengan melihat atau membayangkan sesuatu tersebut
dilakukan, atau dengan istilah lain yaitu pengalaman wakilan. Respon-respon umum manusia saat
melihat karya seni, hal-hal yang dibuat spesial, adalah mengagumi kekuatan, ukuran, kemewahan, skill
pembuatnya atau harganya; berbagi perasaan tersebut dengan khalayak ramai; merasakan kepuasan
kinestetik ataupun sensasional; kesenangan empatik, dan katarsis. Seni, selain menjadi semacam
‘jendela’ untuk melihat ke dalam jiwa, juga memperkaya jiwa; bukan hanya bagi senimannya, tetapi
juga bagi apresiatornya.

Di Program Studi Sarjana dan Magister Seni Rupa ITB, sejak tahun 2000an minat mahasiswa terhadap
kajian dan pendekatan seni sebagai terapi mengalami peningkatan. Semakin banyak mahasiswa yang
secara sadar menjadikan proses artistiknya sebagai bentuk katarsis untuk melepaskan ketegangan,
kecemasan, dan emosi-emosi yang terpendam dengan cara mengekspresikannya melalui aktivitas
seni. Berdasarkan hasil penelitian terakhir yang dilakukan oleh Kelompok Keilmuan Estetika dan IlmuIlmu Seni (KK EIS), di antara tahun 2012 hingga 2017, tercatat ada 71 dari 225 karya Tugas Akhir
mahasiswa Prodi Seni Rupa yang menggunakan pendekatan tersebut. Bahkan skripsi, tesis, dan
disertasi yang mengambil fokus terapi seni dan seni sebagai terapi sudah ada sejak awal tahun 2000an.
Semoga kegiatan psikoedukasi pada hari ini bisa memberi manfaat bagi kita semua, dan menjadi
langkah awal kita bersama, khususnya Bipolar Care Indonesia Bandung untuk mengembangkan
kegiatan-kegiatan lain ke depannya yang akan memperkaya jiwa dan melengkapi kehidupan kita.
Terima kasih kepada semua peserta yang telah meluangkan waktu untuk bergabung, juga kepada
Daniel sebagai moderator hari ini, dan Ibu Isti Chalifati Lazuaria atas kesempatan berharga yang sudah
diberikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Apa yang bisa saya bantu?