SC - Kekerasan di Balik Kasih Sayang

Chicago

Kekerasan di Balik Kasih Sayang” Lukisan "Kekerasan di Balik Kasih Sayang" menggambarkan kisah pilu seorang ibu yang terjebak dalam lingkaran kekerasan dan tekanan. Tokoh utama: ibuku. Digambarkan dengan darah yang keluar dari mata dan hidung, melambangkan rasa sakit dan penderitaan yang terpendam. Warna merah darah yang hampir hitam merefleksikan rasa sakit yang berulang dan tak kunjung henti. Lukisan ini mengungkapkan sejarah kekerasan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Nenekku, yang di didik dengan keras kemudian menanamkan nilai-nilai keras pada ibuku. Sikap keras ini kemudian diteruskan kepada anak-anaknya, terutama kakak sulung yang menjadi salah satu sumber stress bagiku. Tangan di atas kepala ibu melambangkan keluarga besar Nenek yang memiliki kondisi finansial yang tidak stabil. Ibu yang menghadapi kesulitan ekonomi, terpaksa menerima perlakuan tak layak demi mendapatkan uang untuk bertahan hidup. Cat kuku pada tangannya melambangkan kesombongan dan ketidakpedulian keluarga besar Nenek terhadap penderitaan Ibuku. Tangan kanan kedua yang mengelus rambut ibu melambangkan Nenekku, meskipun terlihat seperti tindakan penghiburan, Nenek hanya menjadi penengah untuk membuat ibu lebih sabar, bukan memberikan bantuan nyata. Rasa malu atas kondisi "sakit" anak dan cucu didepan keluarga besar membuat Nenek menolak untuk menerima bantuan dari siapa pun, yang mana membuat ibuku dan kakakku semakin menjadi lebih parah. Tangan ketiga yang terbuka melambangkan mantan pasangan ibu. Dimana setelah menikah dan bercerai, ibu mengalami kekerasan fisik dan verbal dari ayah kandungku. Meskipun terlihat bijaksana di depan orang lain karena statusnya sebagai ustadz, ayah kandungku akan berubah menjadi kasar saat kondisinya tidak senang. Tangan yang terbuka melambangkan ketidakadilan yang dialami ibu karena kurangnya penjelasan dan pemahaman dari orang-orang di sekitarnya, sehingga mereka hanya merasa ayah kandungku bukanlah ancaman bagi ibuku. ———— Lukisan ini merupakan refleksi dari pengalaman pribadiku dan menggambarkan realitas pahit yang dialami banyak perempuan dalam keluarga. Kekerasan yang tersembunyi di balik kasih sayang, tekanan ekonomi dan ketidakpedulian keluarga sehingga menjadi tema utama yang ingin aku sampaikan melalui lukisan ini.